Berdonasi untuk Beasiswa KAGAMA Sambil Mengenal Sejarah Bangsa

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

Berdonasi untuk Beasiswa KAGAMA Sambil Mengenal Sejarah Bangsa
Nonton Bareng Film Banda “The Dark Forgotten Trail”

Bersenang-senang, belajar, dan bermakna. Begitulah semangat kegiatan Nonton Bersama film “Banda” yang diselenggarakan oleh Kagama Virtual, sebuah komunitas alumni UGM lewat Facebook. Kegiatan diselenggarakan di bioskop megah, Studio 2 Episentrum XXI Jakarta pada Minggu, 30 Juli 2017. Ini adalah kali kedua komunitas Kagama Virtual membuat acara Nobar, setelah sebelumnya Nobar Film Kartini di bulan April 2017. Film “Banda” akan tayang secara resmi perdana di bioskop pada 3 Agustus 2017. Kagama Virtual mendapatkan kesempatan menonton duluan berkat kerjasama dengan rumah produksi Lifelikes.

Film “Banda The Dark Forgotten Trail” bercerita tentang sejarah asal mula pulau-pulau di Nusantara ditemukan. Riwayat Kepulauan Banda melintasi peristiwa-peristiwa penting. Suara narator Reza Rahadian mengajak kita menembus perjalanan dari abad 17 hingga 21. Mulai dari pentingnya buah pala di Banda, perang rebutan tanah berempah, jalur perdagangan dunia, dan tempat pengasingan Mohammad Hatta yang di sana ia memikirkan konsep nasionalisme.

Tanah Banda pernah diperebutkan dengan tumpahan darah lantaran kaya buah pala, komoditas yang nilainya saat itu lebih dari harga emas. Namun, kemudian pulau ini ditinggal terbalut sunyi.
Banda memiliki akar multikulturalisme, dengan penduduk beragam etnis, seperti Jawa, Cina, dan Arab hidup berdampingan secara harmoni. Namun, usai reformasi turut terkena dampak konflik sektarian.

Film ini muncul bertepatan dengan peringatan 350 tahun pertukaran pulau Rhun dan Manhattan. Selain itu, ulang tahun Kagama Virtual yang ketujuh. “Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka merayakan beberagaman dan mengenal sejarah bangsa. Juga, untuk penggalangan dana beasiswa mahasiswa UGM yang kurang mampu,” ungkap ketua penyelenggara Andreas Maryoto, alumnus Teknologi Pertanian UGM.

Belajar sejarah dari medium visual menjadi satu daya tarik penonton. Sebanyak 264 penonton hadir berpartisipasi. Uang tiket perlember sudah termasuk donasi untuk beasiswa KAGAMA. Namun tidak sedikit penonton memberi lebih dari uang tiket yang harus dibayarkan dengan tujuan berdonasi. Beasiswa Kagama adalah beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa aktif UGM yang dananya dikumpulkan oleh para alumninya. Pemberian beasiswa ini sudah berjalan lebih dari 5 tahun dan menyalurkan dana beasiswa sebesar Rp 654.000.000 kepada total 193 orang dalam 7 kali penyaluran. Saat ini sedang disiapkan penyaluran beasiswa bagi 30 orang mahasiswa dengan total dana Rp 90.000.000.

Dari kegiatan Nobar Film Banda, dana yang berhasil terkumpul sebanyak Rp 13 juta hingga akhir pertunjukan. Masih berpotensi bertambah karena ada komitmen dari beberapa pihak untuk berdonasi di akhir acara tersebut.

Produser Sheila Timothy menyampaikan ide film ini muncul ketika event Pameran Jalur Rempah di Jakarta tahun lalu. Menurutnya, ini penting memberikan semangat, jadi tahu asal muasal sejarah kita.

Film disajikan dengan cita rasa bangsa sendiri, dengan semua kru orang Indonesia. Dalam proses pembuatan, sutradara Jay Subyakto mengaku tidak mau menonton film dokumenter apapun, agar tidak terpengaruh. Selanjutnya akan dikembangkan komik agar sejarah tidak hanya dikenal orang dewasa, tetapi juga anak-anak. “Ini garis besarnya saja, dari film ini memicu orang menggali sejarah lebih dalam lagi,” harap Jay.

Belajar sejarah menjadi sarana melihat diri kita yang sesungguhnya. Dan, penggalangan dana beasiswa menjadi sarana berbagi menemukan makna.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*