Alat Pelindung Diri

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

Alat Pelindung Diri
Efron Dwi Poyo

PPE (personal protective equipment) diindonesiakan menjadi APD (alat pelindung diri). Dalam projek konstruksi APD standar minimum yang wajib dikenakan adalah helm, sepatu, dan kacamata. Saya akan jelaskan APD lebih rinci di bawah.

Banyak pengelola projek konstruksi masih berpikiran apabila semua pekerjanya mengenakan APD standar, maka mereka akan selamat. Juga, kewajiban pengenaan APD kepada semua pekerja membuat perusahaan naik gengsi, karena dilihat oleh orang luar, dan dianggap sudah memenuhi aspek keselamatan kerja secara administratif. Pemikiran ini primitif sekaligus culas.

Seorang mengenakan APD lengkap. Ia ketiban mesin gerinda dari ketinggian 15 m. Selamatkah pekerja ini? Imajinasikan sendiri. Dalam hirarki pengendalian bahaya di area konstruksi APD justru berada di urutan terakhir.

Dalam pengendalian bahaya pertama-tama yang dilakukan adalah ELIMINASI bahaya. Sebelum bekerja potensi bahaya di depan harus dieliminasi atau dihilangkan. Misal, bekerja di ruang terbatas (confined space). Bahaya yang jelas terbaca adalah kekurangan oksigen dan evakuasi. Bahaya ini harus dieliminasi dengan pengturan pasokan oksigen dan pembuatan jalur evakuasi yang aman, karena ruang terbatas atau sempit. Saya sering misuh-misuh apabila melihat pajabat berkunjung ke terowongan MRT. Ini adalah ruang terbatas dan masih dalam tahap konstruksi. Harusnya secara tegas pengelola projek tidak mengijinkan pejabat (apalagi presiden!) masuk meninjau. Cukup berdiri di batas aman dan berikan informasi sejelas-jelasnyanya lewat gambar dan video mengenai capaian progres.

Urutan kedua pengendalian bahaya adalah SUBSTITUSI. Tujuannya untuk mengganti bahan, peralatan, atau proses yang berbahaya menjadi kurang berbahaya. Misal, mesin pemotong rumput. Di projek konstruksi sering dilakukan pemotongan rumput liar. Potensi bahaya terletak pada bilah/pisau potong dari bahan metal pada mesin potong. Apa bahayanya? Sering terjadi pekerja tidak melihat benda di balik rimbunan rumput. Dapat saja batu atau pipa gas. Jika bilah/pisau mengenai batu kecil, batu itu bisa melayang mengenai kaca mobil/kantor atau orang di sekitar pemotong rumput. Bagaimana jika bilah/pisau itu terkena pipa gas? Sila imajinasikan sendiri. Untuk mengurangi bahaya bilah/pisau metal diganti dengan seutas benang/tali dari bahan nilon.

Urutan ketiga pengendalian bahaya adalah RANCANGAN/DESAIN TEKNIK. Tujuannya untuk mencegah kecelakaan akibat kesalahan manusia. Contoh, mesin gerinda harus dirancang tanpa kunci pada tombol start/stop-nya. Mesin gerinda hanya bisa berputar bila tombol ditekan terus-menerus dan akan mati bila jari operator melepaskan tekanan. Jika mesin menggunakan kunci, dapat kita bayangkan apabila mesin terlepas dari pegangan. Mesin tetap berputar yang akan membahayakan bagi operator dan orang di sekitarnya. Contoh kedua membuat atau memasang pengaman (guard) atau barikade keras (hard) di sekitar peralatan berputar.

Urutan keempat pegendalian bahaya adalah ADMINISTRASI. Segala rencana kegiatan/pekerjaan konstruksi harus dituangkan ke dalam tulisan yang berupa Prosedur Operasi Baku (SOP) atau JSEA (Job Safety and Environment Analysis). Program-program safety lainnya juga harus dilakukan seperti menempel atau memasang papan peringatan mengenai potensi bahaya, misal, AWAS! ADA ORANG BEKERJA DI KETINGGIAN, atau AWAS! SEDANG DILAKUKAN PENGUJIAN PERALATAN, dlsb.

Setelah urutan pengendalian bahaya itu dilakukan barulah menetapkan APD. APD standar minimum seperti saya yang tulis di atas adalah helm, sepatu, dan kacamata.

Helm pada masa modern menggunakan bahan plastik padat sehingga ringan sekaligus aman. Helm yang dikenakan bukan sembarang helm. Ia harus memenuhi standar ISEA Z89.1-2009 atau yang setara. Helm standar yang benar pasti tercantum cetakan kode kedaluwarsa. Helm yang sudah melewati masa kedaluwarsa bahannya menjadi getas dan sudah tidak aman dipakai untuk melindungi kepala. Tentu saja helm pekerja sipil berbeda dari helm pekerja listrik tegangan tinggi. Itu semua bisa dibaca di ISEA Z89.1-2009.

Sepatu (safety boots) banyak ragamnya, dari yang murah meriah sampai yang mahal. Dari itu semua yang terpenting adalah memenuhi standar ANSI Z-41 atau yang setara dan nyaman dikenakan oleh pekerja. Jenis sepatu juga berbeda peruntukannya.
Kacamata (safety glasses) sama halnya dengan sepatu banyak ragamnya, dari yang murah meriah sampai yang mahal. Dari itu semua yang terpenting adalah memenuhi standar ANSI Z-87 atau yang setara dan nyaman dikenakan oleh pekerja. Jenis kacamata juga berbeda peruntukannya.

Di samping itu ada APD tambahan untuk mengurangi bahaya tertentu. Misal, alat pelindung telinga dari kebisingan. Jenisnya juga beraneka. Ada jenis sumbat telinga (ear plug), ada penutup telinga seperti head phone (ear muff), dan masih banyak lagi bergantung pada tingkat kebisingannya. Contoh lagi, sarung tangan, yang juga banyak jenisnya. Sarung tangan pekerja sipil tentu saja berbeda dari sarung tangan pekerja listrik tegangan tinggi atau kimia.

APD standar minimum wajib dikenakan oleh pekerja atau orang yang memasuki area konstruksi. Yang harus diingat APD tidak serta merta menyelamatkan Anda tanpa pengelola projek melakukan langkah hirarki pengendalian bahaya di atas.

Dari tepian Jakarta
MDS

 

Sumber Ilustrasi: http://www.mysafetysign.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*