Anggrek Indonesia

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

Anggrek Indonesia

Cucun Agung Setiawan

Di dunia nan fana ini ada hampir 26000 spesies anggrek dan skitar 20% merupakan endemik Indonesia. Tersebar mulai dari ujung Sumatera, Lesser Sunda Islands sampe Papua Barat. Tumbuh subur dari bibir pantai yg panas dan lembab sampai ketinggian 2000m dpl yg dingin dan kering. Sebagian merupakan litofit yg subur dari humus dan tanah, beberapa seneng nempel dan bergelayutan di batang dan dahan pohon sebagai epifit, dan lainnya merupakan semi epifit-litofit yang malah mencari sela2 bebatuan. Corak dan bentuk bunganya beraneka macam warna. Ada yg plain ada yg eye catching. Sebagian besar bunganya besar tapi ada yg sak imit 3mm. Saya pernah punya. Ngelihatnya pake suryakantha 😭. Sebagian jenis bunganya bisa berminggu bahkan berbulan baru layu, tapi ada yg pagi blooming sore layu. Ada yg bau busuk dan amis dan byk juga yg wangi bedak dan menyengat.

Anggrek2 ini memerlukan kondisi habitat yg khusus utk bisa tumbuh dan berbiak. Ada yg perlu panas dan lembab, ada yg harus di daerah dingin dan kering, ada yg hrs trnaungi, ada yg hrs terjemur matahari 100%, macem2. Belum lagi waktu yg diperlukan mulai dr bibit sampai mampu berbunga. Bisa bertahun2. Jenis vanda itu perlu 3-4thn baru bisa berbunga. Grammatophyllum bisa lbh dr 4thn. Saya punya Paraphalaenopsis denevei sejak 4thn lalu. Daun cm nambah 2 dan plant hanya modot 2cm. Dengan kebutuhan khusus diatas, perkembangbiakan dan perbanyakan anggrek di alam sangat lambat. Hutan tropis kita yg msh luas dan perawan sangat cocok utk mereka.

Saat ini tingkat pembukaan dan kerusakan hutan sangat tinggi. Banyak penyebabnya: illegal logging, perambahan hutan oleh masyarakat lokal, plantation dan mining. Sekian juta hektar hutan dibabat utk tujuan di atas. Setahu saya, perusahaan2 yg melakukan aktivitas pembukaan hutan tadi dibebani kewajiban penghijauan atau pelestarian hutan kembali. Mungkin bentuknya bisa bermacam2, tapi saya ga tau apakah penyelamatan-penangkaran dan pembudidayaan anggrek menjadi salah satu program mereka. Mereka jg punya dana CSR yg seharusnya bisa dialokasikan ke sana. Jaman saya msh di Deloitte 15thn silam, semua perusahaan pemegang HPH wajib menyisihkan sekian persen (2% kalo ga salah) dari keuntungan/revenue (maaf saya lupa juga) utk dana reboisasi. Dicadangkan. Tapi ya begitulah…itu hanya sekedar angka pencadangan tp duitnya tak ada. Apakah benar direalisasikan? Sebagian kecil saja. Entah kalo sekarang. Bgmn bentuknya dan apakah msh ada dana reboisasi sperti itu, saya tak tahu.

Apakah hanya mereka diatas yg bertanggung-jawab atas keberlangsungan hidup anggrek? Ternyata tidak. Para orchid hunter juga berperan. Iming2 easy money dr para kolektor anggrek mendorong mereka merambah hutan, bahkan selama berhari2, utk mencari anggrek, terutama yg langka, dan mencabutnya dr habitat aslinya. Usaha yg murah dan mudah dgn hasil yg maksimal. Yang terbaru, ditemukan phalaenopsis atau anggrek bulan yg diyakini sebagai spesies baru. Belum ada nama resminya, tapi karena ditemukan di area Sungai Kapuas maka para hunter dan kolektor anggrek menyebutnya Phalaenopsis kapuasensis. Di Sungai Kapuas sebelah mana? Itu rahasia buat para hunter yg menemukan. Daya saing mereka trhadap hunter lainnya. Dan juga utk menjaga supply ke pasar biar harga ga jatuh. Saat ini phal itu dijual di harga 3jutaan per plant. Saya kawatir nasibnya akan sama dengan Phal gigantea, endemik Kalimantan juga. Saat ini sangat sulit ditemukan di alam. Tapi berseliweran di forum jual-beli anggrek. Kalopun ada di alam paling ukuran kecil. Belum sempat dewasa dah dihajar sama hunter. Saya punya kenalan mantan pemburu anggrek di Balikpapan. Sudah sepuh, 70an thn. Beliau malang-melintang di hutan Kalimantan thn 80an sbg hunter. Saya pernah liat fotonya disamping Phal gigantea yg panjang daunnya 2 meter lebih. Bayangkan anggrek bulan yg daunnya segitu. So massive! Seperti telinga gajah. Sekarang adakah yg seukuran itu, bahkan di kebun kolektor? Tak ada! Saya pernah liat di kebun kolektor di Bandung, tapi hanya skitar 70an cm. Itu pun perlu keahlian mumpuni dan perhatian ekstra utk memeliharanya agar bisa sebesar itu.

Itu baru anggrek di Kalimantan. Teman penjual anggrek di Bandung mendapatkan pasokan rutin anggrek dendrobium dr Papua. Cabutan dari hutan. Ada 1 spesies dari sana yg hampir punah. Dendrobium helix. Kata teman, hanya segintir kolektor Indonesia yg punya. Bahkan 1 variannya di Indonesia ga ada yg punya. Yang punya malah nursery di Singapore. So ironic. Teman saya dr Batu, Malang pernah datang langs ke SG utk membujuk agar boleh membeli. Mau di bawa pulang dan di biakkan dgn kultur jaringan, gen lestari lagi. Tapi ga boleh dibeli. Malah dikasih “tips” agar tdk “memproduksi” spesies tertentu scr berlebihan agar harga pasarnya tetap tinggi. 😭
Saya cukup beruntung bisa mendapatkan anggrek ini, usia ABG, panjang 20cm, hasil kultur jaringan, seharga 500rb. Sssttt…jangan bilang2 istri saya ya…😬

Tali, seringkali orchid hunter ini jg menjadi penyelamat anggrek. Mereka menyelamatkan anggrek2 dari pohon2 hasil land clearing perusahaan2 plantation dan mining.

Diantara para kolektor, ada kebanggaan tersendiri jika punya koleksi anggrek spesies asli dr hutan. Masih jungle istilahnya. Meskipun tdk selalu tanamannya lbh kuat dan bunga lbh bagus dari hasil kultur jaringan. Alhasil harga anggrek jungle lbh mahal dr hasil perbanyakan di lab. Akhirnya hunter semakin berlomba nyari anggrek di hutan.

Namun, tak semua orchid hunter dan seller hanya melulu “merusak” anggrek di habitatnya. Beberapa dr mereka sangat brtanggung-jawab utk take and give. Teman di Batu punya nursery sekaligus laboratorium kuljar. Sudah sekian ribu bahkan juta anggrek dia hasilkan dr lab nya. Dia juga melakukan persilangan antar anggrek utk memperbaiki kualitas tanaman dan bunganya. Ada lagi teman di Batu juga yg suka hunting anggrek sendiri sampe ke Timor Timur dan Barat, dan Lombok. Setelah itu dia “self” kan bunganya, jadi biji, dia perbanyak via kuljar, jadi botolan, anakan anggrek, remaja dan kemudian dia kembali ke tempat hunting tadi membawa ribuan bibit anggrek utk dia “kembalikan ke alam”. Saya pernah diajak, sayangnya saya blm bisa ikut.

Seingat saya, pemerintahan orba punya perhatian lebih trhadap anggrek, karena Bu Tien Soeharta adalah orchid lover. Sampai ada anggrek sp Indonesia dinamakan Cymbidium hartinahianum. Beliau jg pernah jd Ketua PAI. Kalo sekarang kok saya ga melihat perhatian pemerintah kepada anggrek. Ealah lha kok anggrek…duitnya entek utk infrastruktur jeh 😜.

Saya kawatir, bbrp thn lagi anggrek2 Indonesia akan punah di habitatnya dan hanya ada di nursery2 atau kebon2 para kolektor. Bahkan bisa jadi yg punya malah kolektor asing.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*