Banking Hall

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

– Banking Hall –

Haryoko R. Wirjosoetomo

 

Persis sehari sebelum tanggal 30 Mei lalu, saya teringat belum menyetor angsuran pembayaran bertahap rumah yang saya beli di Cinere. Tanggal 30 adalah dateline setiap bulannya, sehingga besok saya harus menyetor ke virtual account di BCA – yang dibuka oleh developer atas nama saya – jika tidak mau terkena penalti. Saya beritahu isteri dan kami sepakat besok akan memprioritaskan urusan ini.
Rencana tinggal rencana. Esok harinya, lantaran harus mengerjakan ini dan itu dirumah, saya bersama isteri baru bisa pergi ke bank selewat tengah hari. Biasanya saya akan mentransfer dari rekening saya di BNI ke rekening BCA dan dari rekening BCA tersebut saya transfer lagi melalui internet banking ke virtual account BCA. Karena sudah siang, saya putuskan untuk tarik tunai di BNI dan setor tunai ke BCA. Sebuah cara yang paling sederhana dan cepat, lantaran di Cinere lokasi KCU BNI tepat bersebelahan dengan KCU BCA.
Setiba di KCU BNI Cinere, saya lihat antrian nasabah di banking hall sangat penuh. Setelah berfikir sebentar, saya putuskan untuk membatalkan transaksi dan menundanya besok pagi. Dengan agak heran, isteri saya ikut keluar.
“Kok batal? Kita akan kena penalti kan?”
“Iya, satu per mill sehari,” sahut saya kepadanya.
“Kenapa?”
“Tadi didalam penuh, aku merasa enggak aman saja…”
“Masa sih enggak aman?”
“Begini,” kata saya menjelaskan kepadanya. “Di bank manapun, yang namanya banking hall adalah tempat yang tidak aman. Kita tidak pernah tahu apakah orang yang mengantri disana nasabah beneran atau perampok yang menyamar sebagai nasabah….”
“Menyamar sebagai nasabah?”
“Iya, bahkan menyetor pula…”
“Lho, saat dia buka rekening, kan musti menyerahkan KTP?”
“Ga harus buka sendiri. Sekarang banyak orang yang menjual rekening bank dengan data-data palsu. Mereka tinggal membeli dan menggunakannya sebagai kedok, seolah-olah nasabah disini sehingga bisa ikutan mengantri tanpa dicurigai…”
“Lalu, apakah mereka akan merampok didalam bank?”
“Kecil kemungkinannya. Penjahat spesialis perampok nasabah bank tahu, banking hall dimonitor dengan CCTV. Jadi mereka akan merampok diluar setelah menentukan sasarannya didalam, yaitu nasabah yang mengambil uang dalam jumlah besar. Tinggal difoto pakai henpon, kirim gambarnya lewat WA kepada komplotannya yang menunggu diluar. Mereka yang akan mengeksekusi…”
“Jadi?”
“Aku ga mau ambil risiko itu, bawa uang cash dalam jumlah besar keluar dari pintu bank ini, meskipun hanya beberapa meter untuk masuk lagi ke pintu bank sebelah. Besok pagi saja, jam delapan, saat bank masih sepi…”
Isteri saya mengangguk setuju. Kamipun pulang. Dan sebulan kemudian terjadi perampokan atas Davidson Tantono, seorang pengusaha muda yang baru saja mengambil uang di BCA Green Garden, Jakarta Barat. Skenario kejahatannya? Persis seperti saya tuturkan kepada isteri dan berakhir tragis pula. Pelaku dengan kejam menembaknya tepat di kepala. Korban meninggal seketika di depan SPBU Daan Mogot.
Memang, saat kriminalitas kian meningkat seperti sekarang ini, menjadi orang baik saja tidak cukup. Kita harus mau menyisihkan waktu untuk melakukan assessment terhadap keputusan-keputusan yang potensial menimbulkan risiko, baik dari sisi keamanan maupun keselamatan diri dan keluarga. Karena itu, biasakanlah untuk melakukan assessment dan jadikanlah sebagai sebuah kebiasaan.
Cinere, 27 Juli 2017

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*