Kisah Inspiratif: Dodolan Soto

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

Kisah Inspiratif: Dodolan Soto
Suprawoto Toto

Beberapa tahun menjelang pensiun, saya sudah mulai menyiapkan diri dan keluarga. Mulai dari tempat tinggal, keuangan dan investasi, rencana kegiatan, sampai segala asuransi dan masalah2 kecil lainnya mulai direncanakan. Saya cukup beruntung; menjelang saya pensiun dua dari tiga anak saya sudah selesai kuliah S2, menikah, berkarir, membeli rumah sendiri dan sudah mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Sedangkan si bungsu yang 8 tahun lebih muda dari kakaknya sudah menginjak semester 5 di UI.
Pertama, saya sudah menetapkan bahwa selesai masa kerja, saya ingin istirahat dan tidak lagi mau pusing dengan pekerjaan.
Kedua, saya ingin tinggal di Palembang, dengan alasan saya sudah punya komunitas dan kawan2 disini sehingga tetap dapat berinteraksi tanpa harus mencari kenalan baru di lingkungan baru. Minimal sekali dua minggu ada undangan mantu 😅


Ketiga,saya kepingin menghabiskan waktu dengan jalan2 dengan Yangtinya Azka dan teman2 sesama manula, momong cucu, dan bersenang-senang.
Mengenai keuangan, sejak cukup lama saya sudah mulai menempatkan tabungan saya pada beberapa instrumen investasi yang saya anggap aman seperti ORI, dana pensiun, reksadana dan instrumen aman lainnya sehingga saya harapkan secara finansial saya cukup terjamin, paling tidak diatas kertas😊. Untuk anak bungsu yang masih kuliah, saya sudah sisihkan dana cukup untuk menjamin kuliahnya sampai lulus S2 kelak, dengan asumsi biaya kuliah perguruan tinggi negeri, dan waktunya normal.
Gaya hidup, sudah disesuaikan sejak beberapa bulan sebelum pensiun. Bepergian mulai pakai maskapai LCC, makan diluar dibatasi dan pilih yang ramah di kantong, bahkan isi amplop kado manten juga mulai “disesuaikan” 😅. Semuanya agar switching menjadi pensiunan bisa berlangsung mulus. Apakah semua rencana saya berjalan mulus tepat sesuai rencana? Jawabannya: mari dibaca lanjutannya 😏

Pertama, beberapa waktu sebelum saya pensiun banyak teman2 yang menelpon, menawari kerja ini dan itu. “Mas, njenengan kan punya banyak pengalaman enjiniring, konstruksi, supply chain, dan lain2, bahkan finance. Eman2 kalau nanti ndak dipakai. Mbok gabung kami saja….”. Jawaban saya hampir selalu: “Wah, matur nuwun. Masih banyak yang lebih muda dan lebih hebat daripada saya.” Godaan demi godaan nyaris membuat saya mengurungkan niat untuk menikmati masa pensiun. Tapi semuanya akhirnya bisa berlalu, sambil teringat anak2 yang sedang mulai meniti karir. Kalau kami yang tua2 ini masih juga tidak mau minggir, kapan mereka beroleh kesempatan maju?
Mengenai tempat tinggal, tidak banyak masalah. Selama ini kami tinggal di rumah dinas, sedang rumah mungil kami dikontrakkan. Dua tahun sebelun saya pensiun, rumah tidak dikontrakkan lagi dan mulai diperbaiki sana sini menyesuaikan kebutuhan kami.

Ketika kemudian saya betul2 pensiun, maka kami mulai jalan2, mulai dari umroh sampai mengunjungi tempat2 yang selama ini ingin kami kunjungi, mumpung badan masih cukup sehat. Tapi ternyata rencana tidak semulus perkiraan. Istri saya yang masih punya banyak kegiatan selaku “sosialita lokal”😏 sering tidak bisa ikut jalan2. Seringkali saya jalan2 dengan “geng” teman2 semasa sekolah SMA yang juga punya hobby jalan2, tanpa disertai istri. Dalam 4 bulan, napsu jalan2 mulai surut, dan mulai banyak “waktu luang”😏. Terus, waktu luang mau dipakai buat apa? Godaan untuk menghubungi teman2 yang dulu menawar-nawari job mulai melambai-lambai. Belum sampai menghubungi betulan, tapi keinginan untuk itu ada.

Kemudian timbul ide untuk buka warung barokah di depan rumah. Ide itu asalnya dari kenyataan banyaknya orang menjadi kriminal demi supaya bisa makan, termasuk orang2 di lingkungan sekitar kompleks tempat tinggal kami. Kalau saya bisa kasih mereka makan, bukankah saya turut membantu menyelamatkan orang dari dosa sekaligus mengurangi korban kriminalitas? Walaupun sedikit, paling tidak ada kontribusi saya. Kebetulan saya suka memasak, efek samping lamanya hidup kost di Jogja 😅.
Saya mulai membuat perencanaan, beli beberapa peralatan untuk warung, dan membuat rencana untuk menyulap garasi kecil saya jadi warung gratisan di siang hari dan jadi garasi lagi malamnya. Target saya tidak muluk2. Buka seminggu 2 kali dengan perkiraan pengunjung 15 orang sehari. Semua kami kerjakan sendiri termasuk memasak.

Ditengah persiapan bikin warung barokah itu, saya dapat kiriman cerita yang viral melalui grup WA, tentang seorang ibu di Solo yang sengaja menggratiskan dagangannya setiap hari Jumat. Kami langsung terpikir; kenapa tidak melakukan yang sama? Sekaligus bisa memberikan lapangan kerja kepada paling tidak 6 orang untuk mengurus sebuah warung. Rencana dirubah. Buka warung Soto Kudus yang digratiskan setiap Jumat. Kenapa Soto Kudus? Karena saya suka Soto Kudus. Sesederhana itu.

Februari 2017, warung kami mulai dibuka. Betul2 kepuasan yang besar sekali menyaksikan binar mata mereka yang menikmati nasi soto yang kami sajikan secara gratis setiap Jumat. Ternyata beberapa teman yang mengetahui kegiatan kami ingin ikut beramal melalui warung kami, sehingga sebagian kebutuhan dana untuk makan gratis setiap Jumat berasal dari sumbangan teman2. Semangat semakin naik. Kemudian kami membuat program amal dengan sebagian dana berasal dukungan teman2. Ramadhan kemarin, warung kami membagikan 1500 box nasi lengkap dengan lauk yang layak untuk buka puasa masjid2 dan panti2 asuhan. Alhamdulillah.

Malam hari, warung kami juga jualan wedangan ala angkringan di Jogja, lengkap dengan wedang ronde dan nasi kucingnya. Yang paling menyenangkan dari warung wedangan ini adalah; hampir setiap hari selalu ada teman2 Kagama yang berkunjung ke warung kami, sehingga selalu terjalin silaturahmi.

Sekarang para pekerja warung sudah semakin terampil, dan kami sudah bisa jalan2 lagi kalau sedang kepingin.

Dodolan soto ki jebul nikmat😊😀
Monggo diaturi pinarak warung kulo.

#KisahInspirasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*