Kisah Inspiratif: Keluar Dari Kemiskinan

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

Kisah Inspirasi

KELUAR DARI KEMISKINAN

oleh Wardoyo HP

Aku adalah anak kedua dari enam bersaudara, anak laki-laki pertama. Alm Bapakku petani dengan penghasilan yang cukup untuk makan dan biaya sosial di kampung, sedangkan simbokku bakul karak di pasar.

Sejak kecil aku biasa membantu mbakyuku masak, mandiin & nyuapin adik-adik ketika simbok kulakan karak. Jadi jangan kaget kalau sampai sekarang aku bisa masak menu ndeso semacam sambel tumpang, botok, oblok-oblok dan sejenisnya.

Kelas 3 SD aku sudah bisa naik sepeda onta. Karna aku kecil mungil, item dan kriting maka aku naik sepedanya NGODOK”. Mulai kelas 4 aku diajari simbokku kulakan karak dengan sepeda onta di belakang dikasih keranjang bambu. Begitu mulai fasih, hapal jalan dan warung-warung yang harus disetori karak maka aku mulai dilepas kulakan sendiri.

Yang paling membahagiakan buat aku waktu kulakan adalah BAKDO KUPATAN. Juragannya karak memberi kupat kepada semua yang kulakan dan para buruhnya. Makanan paling lezat aku pernah aku rasakan saat itu.

Memasuki kelas 6 SD mbakyuku DITEMBUNG orang untuk dinikahi yang mana saat itu umurnya baru 15th lebih. Mbakyuku umur 16th nikah, jadilah aku sebagai penanggungjawab dapur dan adik-adikku kalau pagi. Sore sepulang sekolah tetap kulakan karak.

Pertengahan kelas 6, juragan karak kami mengembagkan usaha dengan memproduksi es kuncir. Nah, tambahlah pekerjaanku. Sehabis Subuh naik sepeda onta bawa kaleng/blek bekas minyak/roti tuk kulakan es kuncir disetor ke warung-warung tetangga.

Menginjak SMP kelas 2 terjadi regenerasi. Adikku menggantikan aku kulakan karak namun kulak es kuncir tetep. Disamping itu mulai malu dengan teman-temanku.

Meskipun sibuk dengan kulakan karak, es kuncir, membantu bungkusi manisan, dan angon kebo juga namun prestasi sekolah tetep juara waktu SD, dan selalu masuk 15 besar dari 210 siswa pada waktu SMP.

Menjalani SMA juga tidak kalah epic. Jarak rumah ke sekolah -+11km dengan sepeda onthel yang sering rusak. Akhirnya hampir tiap hari mbonceng temen.

Pada suatu ketika ada saudara yang rumahnya dekat dengan sekolah ke rumah, kemudian aku dititipkan untuk tinggal di rumahnya. Jangan berpikir hanya nunut tok… Setiap pagi sebelum brangkat sekolah membantu angkat-angkat mebel yang mau finishing. Pulang sekolah setelah makan dan istirahat sebentar membantu ngamplas, melitur, dsb. Pada posisi ini setiap Sabtu sore aku pulang ke orangtua.

Libur sekolah bagi sebagian orang saatnya liburan, piknik. Bagi saya libur sekolah saatnya cari uang. Buruh matun, panen, atau jadi kenek tukang batu kujalani. Pekerjaan paling berat yang pernah aku jalani adalah menaik dan menurunkan sirtu ke truk untuk disetor ke proyek-proyek. Setiap malam badan berasa sakit semua, setiap bangun tidur masih sakit tapi harus bangkit ke kali untuk naik-turunkan sirtu lagi.

Akhirnya SMA lulus juga dengan nilai terbaik, masuk 5 besar untuk jurusan A3. Aku menolak masuk A2 karena berpikir butuh biaya untuk bahan-bahan praktikum. Selain cita-citaku menjadi manajer. Persisnya pingin gak miskin. 😊

Bagi orang kampung seperti aku yang tidak gablek modal, bingung mau melanjutkan kuliah atau tidak. Alm Bapak dan simbok menyemangati aku untuk daftar SIPENMARU. Bukan perkara mudah untuk memilih jurusan, kalau kampus sudah jelas UNS.

Ditengah penantian pengumuan Sipenmaru, ada saudara yang kuliah di KU UGM main ke rumah bersama ibunya (ibunya sepupu-ku). Setelah ngobrol panjang lebar akhirnya aku diajak ke Jogja untuk didaftarkan ujian masuk FNE dengan biaya pendaftarn ditanggung saudaraku tadi. (Aku gak tahu sebenarnya FNE itu apa. Hehehehe).

Aku diterima di FNE… pergilah aku ke Jogja untuk daftar ulang bersama kenalan yang sama-sama cah Bekonang. Nginep di Janti tempat kos saudara teman baruku tadi.

Pagi hari mau daftar ulang pas pengumuman Sipenmaru. Namaku dan nama temanku ada di KR waktu itu. Kami binguung….

Akhirnya mengikuti kata hati dan orang sekampung sudah terlanjur tahu kalau aku mau kuliah di UGM. Wkkkkkkkk….

Hari demi hari perkuliahan kulalui dengan kos seadanya di Karangmalang bersama teman satu kampung yang sudah duluan masuk FNE. Cukup 120 ribu sewa kos 1th untuk 2 orang. Jatah uang makan-ku 10rb untuk seminggu termasuk biaya pulang-balik ke Bekonang.

Suatu ketika mau balik ke Jogja simbokku gak punya duit buat nyangoni, ditambah lagi ada tetangga yang nagih utang. Remuk redam hatiku saat itu. Belum lagi tetangga itu bilang “Yen ora gablek duit kuwi ora sah nyekolahke anak. Kere wae mbok wis trimo wae buruh nyang sawah” (Kalau gak punya duit gak usah menyekolahkan anak. Kere aja mbok terima saja buruh ke sawah.)

Dunia seperti runtuh saat itu. Akhirnya aku harus mbolos seminggu nunggu simbok punya duit. Disamping itu aku ikutan buruh yang paling tidak aku sukai. Ngunggahke sirtu.

Aku juga sering disangoni mbakyu-ku yg sudah nikah di usia muda itu. Kadang juga bapak/simbok pinjam duit sama mbakyuku. Beruntung sekali suami mbakyuku ini baik banget, sampai sekarang.

Suatu ketika pulang ke Bekonang naiik 04 melewati Kridosono. Saat itu melihat orang jual rambutan dengan menggunakan pick-up merasa gak asing dengan wajah. Setelah balik lagi ke Jogja aku penasarab dan kudatangilah tukan rambutan itu dengan naik sepeda teman kos. Ternyata benar dia adalah tetangga beda kampung tapi dulu sering ngarit bareng.

Perkenalan dimulai, aku sering ke tempat dia jualan buah. Aku bantu-bantu jualan. Lumayan dapat makan siang gratis yang artinya penghematan.

Setelah 3 bulan aku bantu jualan kalau tidak ada jadwal kuliah pagi (seringnya kuliah emang sore atau malam sih…😀).

Setelah tahu kinerjaku dan makin hari omsetnya naik, maka aku diangkut ke jalan Kaliurang KM 5.6 untuk dibayari kos. Mulai saat itulah aku hanya minta duit ke simbokku untuk bayar SPP saja.

Jangan tanya aku dibayar berapa saat itu… gak ada itungan pasti yang penting “Aku happy… dia happy… kuliah kelar… Istana Buah maju lancar…”

Ketika aku mengutarakan mau ke Jakarta dia sedih, namun aku harus mengejar cita-citaku yang paling utama… KELUAR DARI KEMISKINAN.

Bersambung…. ke http://kagamavirtual.id/kolom/keluar-dari-kemiskinan-2-kaya-jangan-sendiri/

Ilustrasi:  Ini foto simbok mau ke pasar, diambil 3 bulan lalu.
Sumber Ilustrasi: Dokumentasi Wardoyo HP

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*