Kisah Inspiratif: Mengingat Petuah

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

Kisah inspiratif menyambut hari Merdeka:

Mengingat Petuah

oleh Aan Dyna

Aku anak ketujuh dari delapan bersaudara. Tujuh cewek dan satu cowok (nomer 4). Secara ekonomi jelas tidak murah. Papiku adalah guru olah raga yang menjadi penilik sekolah. Dalam kurun waktu tertentu, beliau mempunyai sampingan sebagai pembina YPAC (Yayasan Pembina Anak Cacat) dan dipercaya mengurusi sport center area bulutangkis cukup besar di kota Solo waktu itu. Sewaktu SMP sampai aku selesai kuliah, Mamiku mempunyai industri rumahtangga membuat bola bukutangkis (shuttle cock menjadi thema skripsi S1-ku) dengan jumlah karyawan yang naik turun. Kadang sedikit, kadang banyak, sampai 70 an orang. Perputaran ekonomi aku lihat juga naik turun: ada untung, hutang pribadi dan Bank, ke penggadaian dst.

Walaupun begitu, kehidupan kami boleh dikata tidak pernah kekurangan jika dilihat dari luar dan ditinjau secara keseluruhan. Rumah lumayan besar dengan banyak pembantu rumah tangga, selalu ada di garasi satu dua tiga mobil, tidak pernah kelaparan. Aku pikir hidup kami biasa saja dan tidak boros dan manja. Bila pembantu pulang, tangan tangan mungil kamilah yang selalu tertantang menyelesaikan urusan rumah tangga. Waktu itu belum tersentuh alat modern seperti mesin cuci, misalnya. Yang aku ingat Mamiku berpesan: “Bekerjalah lebih baik dari pembantu, lebih bersih! Pembantu itu fungsinya hanya membantu dan biasanya tidak makan sekolah… ini rumah dan isinya adalah milik kalian dan kalian juga berpendidikan!”. Entah mengapa perkataan beliau itu bagiku sangat bermanfaat sampai sekarang.

Mamiku sangat memperhatikan lebih tentang pendidikan dan perkembangan anak. Tidak didetail tapi lebih ke prinsip-prinsip hidup yang akan selalu aku ingat dan secara otomatis aku gunakan ke pendidikan anak-anakku, seperti kejujuran, berani bila benar, hidup secukupnya, ‘karo wong cilik ora ngidak karo wong gedhe ora ngathok’ (dengan orang kecil tidak menginjak, dengan orang besar tidak menjilat) dst. Tentu saja, aku sering ‘ndlewer’ tapi beliau selalu tersenyum bila aku menceritakan kejadian2 yang telah kulakukan dan aku tahu beliau tidak berkenan. Justru disitulah biasanya aku merasa bersalah😬.

Ada satu yang aku ingat, kami tidak boleh pacaran, nonton film, main ke tempat teman kecuali diantar sampai lulus SMA. Alasannya menurutku sangat logis, hormon kami belum stabil! Mungkin ini dapat diperdebatkan, dan aku juga mencoba sedikit mendebat, tapi waktu itu begitu sorot matanya tajam menusuk akhirnya aku menurut, walau hormon bergejolak juga sih😬😀. Akibatnya nasib ‘kecengan’ dimalam minggu hanya sampai diteras rumah dengan jam berkunjung sampai jam 21.00. Tidak ada yang namanya jalan keluar, apalagi pacaran.

Sewaktu lulus SMA, ada dua kakakku yang masih kuliah di Yogya. Sebenarnya cukup berat untuk mengongkosi semua. Tapi Mamiku selalu memastikan ‘untuk sekolah’ semua akan dicukupi. Caranya? beliau tidak ingin kami tahu. Tentu saja dengan bekerja jeras, itu yang aku tahu. Beliau selalu bangun subuh dan bekerja sampai malam hari. Memulai sebelum tukang tukang kami bangun dan istirahat setelah mereka ‘lautan’ (selesai bekerja). Aku tidak pernah mendengar sekatapun bernada keluhan. Beliau selalu memperhatikan dan mempengaruhi positif lingkungannya dan selalu mendidik disiplin dan optimis tukang tukangnya termasuk menyemangati kami untuk kuliah tepat waktu. Kepada pegawainya, ucapan yang aku ingat adalah : “Jangan berhenti jadi tukang! Mimpilah jadi juragan! Juragan yang berhasil mesti disiplin, tahu pekerjaan detail, tidak boros dst. Bila ada yang sudah berani dan siap, ibu bisa membantu memodali dst….”. Beberapa memang berhasil jadi ‘juragan’ dengan atau tanpa uluran tangan Mamiku, walaupun akhirnya jadi pesaing. Bagi Mamiku, itu tidak masalah, justru malah dibantu jalur distribusinya atau kadang pinjam meminjam alat, tukang bahkan bahan. Terus terang aku salut dengan jiwa besar beliau.

Semasa kuliah, dimana aku kos atau kontrak rumah dimanapun dan berapapun termasuk punya pembantu, beliau selalu menekankan yang penting aku nyaman. Kehidupan sewaktu kuliah memang tidak ada hambatan. Walaupun begitu aku selalu berusaha tahu diri (perasaanku sih..😬).

Mamiku berpesan, setelah selesai S1, maka tugas orang tua secara finansial sudah selesai. Disitu beliau konsisten, kehidupan milik kami seutuhnya tidak ada campur tangan. Beliau percaya sepenuhnya, kami bisa menghadapi kehidupan termasuk menghadapi permasalahannya.

Disiplin, tanggung jawab dan terutama visi beliau tentang masa depan orang lain dan anak-anaknya menginspirasi hidup kami.

Inti dari cerita ini, yang sesungguhnya berjuang itu adalah orang tuaku termasuk doanya. Aku hanya menjalani dan berusaha menjadi anak yang tidak mengecawakan beliau. Syukur syukur bisa membuatnya bahagia dan selalu ingat serta mengikuti teladan beliau. Semoga beliau selalu sehat dan bahagia.Terima kasihku pada orang tuaku❤.

#KisahInspirasi

Ilustrasi: Pabrik Shuttle Cock Gadingan
Sumber Ilustrasi: http://www.solopos.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*