Mblebes 4: Dodolan Batik

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

#Mblebes #4

Dodolan Batik

Suprawoto Toto

 

Membaca beberapa trit teman2 di grup ini tentang LDR dan tentang dagang batik, ingatan saya melayang pada pengalaman saya sendiri 35 tahun yang lalu.

Tahun 1982, tahun ke 3 saya kuliah di UGM, saya menjalin LDR dengan seorang gadis jelita di kota Palembang. Sedikit masalah ketika itu, bapak pacar saya kurang sreg putri cantiknya pacaran dengan saya. Katanya karena masih belum mantep, masih sekolah, belum jelas masa depannya walaupun kuliahnya nggenah dan dari keluarga berada. Dalam pikiran bapak pacar saya itu, saya adalah anak manja yang cuma bisa mengandalkan duwit orang tua. Sebenarnya pemikiran itu sedikit banyak ada benernya, wong saya ketika itu belum bisa cari duwit sendiri dan cuma nyadong ortu😏. LDR Palembang-Jogja juga membuat kami hanya bisa ketemu setiap libur semesteran. Diluar itu, rasa rindu kami lampiaskan melalui berlembar-lembar kertas surat wangi yang berisi kata-kata manis berbunga-bunga bukti kerinduan kami satu sama lain.

Suatu ketika menjelang libur semester, saya dolan ke rumah salah seorang kerabat, pegawai Dinas Kehutanan yang punya usaha sampingan berdagang batik. Tahu saya akan pulang ke Palembang, beliau menitipkan 3 lembar bahan kemeja dari batik halus kepada saya, dengan pesan agar ditawar-tawarkan kepada teman2 Bapak atau teman2 arisan Ibu. Diwanti-wanti juga agar hati2 membawanya, karena harganya 150 ribu satu lembar. Untuk ukuran jaman itu, harga segitu mahal sekali.
Batik2 itu saya bawa pulang ke Palembang. Sampai di Palembang batik2 itu saya serahkan kepada Ibu, berikut pesan agar ditawarkan kepada teman2 arisan Ibu. Jaman itu belum ada HP, dan yang punya telpon rumah juga belum banyak sehingga forum arisan adalah cara paling efektif untuk menawarkan barang dagangan.

Ternyata Ibu baru saja arisan, dan arisan berikut masih sebulan lagi. Weleh. Padahal libur saya tidak sampai sebulan. Berarti batik bakal saya bawa balik ke Jogja lagi, kasihan kerabat yang sudah terlanjur berharap.

Malamnya, saya naik FIAT 127 milik Bapak, apel ke rumah diajeng denok, dan seperti biasa disambut hangat oleh pacar saya, dan disambut dingin oleh bapaknya saya. Seperti biasa pula, kami bercengkerama di teras rumahnya yang lebih merupakan balkon yang terlindung dari jalan di depan rumah.

“Mas…”
“Hmm…”
“Anu…., Bapak sampai sekarang masih belum sreg lho sama Mas”.
“Lho, kenapa?”
“Ndak tahu. Katanya sih masih terlalu muda, belum mantep”. Dari surat2 yang dikirimnya, memang saya tahu bahwa ada beberapa lelaki yang sudah “mantep” naksir pacar saya, dan melakukan “approach” melalui bapaknya.
“Memangnya kenapa? Masih kepingin kamu sama Mas Dar yang jadi insinyur pabrik ban?”.
“Ah…..”.
“Lho, siapa tahu kamunya juga mau…”, menggoda.
“Ah, mas ini lho….”, sambil mencubit sayang lengan saya. Enaknyaaa….

Sedang kami seru2nya bercengkerama, mak jegrek pintu ruang dalam dibuka dan bapaknya, pensiunan perwira ABRI yang masih gagah dan ganteng, keluar dan duduk di kursi depan kami.

“Malam Pak…” salaman cium tangan.
“Malem…..”
Kami semua saling diam beberapa menit lamanya.

“Nak Toto, kira2 kuliahnya masih berapa lama lagi?
“Wah, ndak tahu pak. Kalau lancar ya kira2 dua atau tiga tahun lagi mungkin saya lulus” sambil dalam hati mengingat-ingat, ada ndak ya dari Teknik Mesin yang bisa lulus 5 tahun?
“Oohh…, masih lama ya?”. Mati gue, sudah dicepet-cepetin juga dibilang lama.
“Kalau di UGM, Teknik Mesin memang biasanya kuliahnya lama pak”, cari alasan.
“Hmm….”.
Kami diam lagi beberapa menit. Saya lirik muka pacar saya berubah agak memucat. Wah, gelagat kurang bagus nih. Jangan2 kami mau dipaksa bubaran. Gawat…… Kami saling diam untuk jangka waktu cukup lama, dan itu membuat saya jadi agak senewen. Membayangkan dipaksa putus pacaran dan senewen didiamkan cukup lama, mendadak saya nekat. Sebagian karena senewen didiamkan, sebagian karena “nothing to lose”; paling2 nanti disuruh bubaran.

“Anu pak…”
“Hmmm….”
“Saya tadi bawa batik dari Jogja. Kalau Bapak kebetulan mau beli batik, batiknya bagus2”.
Mendadak raut muka beliau berubah, menunjukkan ketertarikan yang besar.
“Oh ya? Batiknya sekarang ada dimana?”
“Ada dirumah pak. Besok saya bawa kesini” berharap besok boleh apel kesitu lagi.
“Ya sudah. Besok bawa kesini ya. Bapak mau masuk nonton warta berita dulu” sambil berdiri, “Omong2, harganya satu berapa?”
“Duaratus ribu pak”
“Wah, batik bagus ya?”
Beliau masuk kedalam, kami berdua bisa menarik napas lega dan bercengkerama lagi.

Besoknya, batik2 yang saya bawa dibeli 2 lembar oleh bapak pacar saya, duaratus ribu satu lembar. Belakangan selembar lagi akhirnya dibeli Bapak.

Sedangkan di teras depan……
“Mas…”
“Hmm.., apa sayang?”
“Bapak sekarang seneng lho sama Mas”
“Sukurlah. Kok bisa berubah? Mas Dar sudah dapat pacar baru”
“Ah….”, mencubit lagi. Uhuuyy…
“Kenapa memangnya?”
“Katanya mas Toto anak hebat. Anak orang berada, sekolah di UGM, masih mau jualan batik untuk cari uang. Bukan seperti mas anu yang manja jadi anak orang kaya”

Sejak itu, LDR kami lancar jaya😏. Diajeng denok cerita, surat2 saya yang dulunya suka disensor dan dibaca dulu oleh bapaknya, tidak pernah lagi disensor. Mblebes memang ampuh mengatasi segala situasi.

Jangan tanya mengenai kelanjutan hubungan kami. Dia bukan Yangtinya Azka, bukan anggota Kagama, sekarang jadi pejabat di Dephub 😊

Sekian

*masih ada #mblebes5
*bukan #kisahinspirasi juga 😀

 

Sumber Ilustrasi: http://bsnscb.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*