Menuju Kemerdekaan RI (1): Jaman Jepang

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

MENUJU KEMERDEKAAN RI (1) : MASA PENDUDUKAN JEPANG

Membicarakan proses kemerdekaan RI, vbiasanya saya membagi menjadi 3 fase, yakni :
1. Masa Jepang
Dimulai ketika Jepang masuk dan saya batasi sampai terbentuknya BPUPKI
2. Proses Proklamasi Kemerdekaan
Dimulai sejak Sidang BPUPKI tanggal 29 Mei sampai Akhir 1945. Milestonenya adalah pemindahan Ibukota RI 4 Januari 1946.
3. Mempertahankan Kemerdekaan
Dimulai sejak Januari 1946 sampai KMB dan penyerahan kedaulatan di Yogyakarta.

MASA PENDUDUKAN JEPANG
Pendudukan Jepang dimulai saat Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Pada tgl 8 Maret 1942, Ter Poorten sebagai wakil Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, menandatangani dokumen penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda kepada Jepang. Status penyerahan inilah yang membuat Belanda nantinya tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia sampai KMB ditandatangani pada tahn 1949.

Selama masa pendudukan Jepang, hampir semua tokoh pergerakan, termasuk tokoh-tokoh non-kooperatif, mau diajak kerja sama dengan Jepang. Iming-imingnya adalah Kemakmuran Asia Timur Raya. Konsep yang menjanjikan kemakmuran negara-negara Asia yang bebas dari penjajahan barat dibawah pimpinan Jepang. Konsep dan janji ini yang dimulai sejak Jepang menduduki Taiwan dan China di tahun 1937 membuat banyak tokoh pergerakan mau bekerja sama dengan Jepang. Bung Karno, dalam biographinya, dengan jujur menyatakan sebagai masa yang paling disesalnya. Akibat kampanye untuk mendukung Jepang, ribuan orang harus dikirim sebagai romusha ke berbagai penjuru asia tenggara. Tak terhitung ratusan wanita yang menjadi korban sebagai Jugun Iantu.

Setelah berhasil menarik tokoh-tokoh pergerakan, Oktober 1943, Jepang memfasilitasi NU, Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam Indonesia mendirikan Masyumi.
Untuk memperkuat pendudukan, Jepang membentuk organisasi pemerintahan sampai ke tingkat yang paling kecil, yaitu Tonarigumi. Perangkat pemerintah yang sekarang kita kenal sebagai RT (Rukun Tetangga). Sedangkan untuk mempersiapkan dukungan dalam perang, jepang memberikan pelatihan kemiliteran kepada pemuda-pemuda. Berikut ini adalah berbagai organisasi yang diberi latihan kemiliteran oleh Jepang.

1. Seinendan (Korps Pemuda), untuk pemuda yang berusia 14 – 24 tahun

2. Keibodan (Korps Kewaspadaan) berusia 24 tahun keatas yang tugas utamanya menjada ketertiban. Dikemudian hari anggotanya banyak yang menjadi Polisi.

3. Suishintai atau Barisan Pelopor, organisasi semi militer terbesar dan dipimpn oleh Bung Karno.

4. Kaikyo Seinen Teishinti atau Tentara Allah/Hisbulah. Oganisasi Semi Militer dengan Anggota khusus dari organisasi-organisasi Islam.

5. Gokukutai (Barisan Pelajar) , anggotanya khusus pelajar

6. Fujinkai atau Perkumpulan Wanita, yang anggotanya khusus wanita yang diberi pelatihan militer dengan tugas utama memvantu di garis belakang sebagai tenaga medis, dapur umum dll.

Selain itu Jepang juga membentuk pasukan militer, yang nantinya akan berperan dalam pembentukan TNI. Tapi juga menjadi bibit konflik dalam TNI karena ada unsur yang berasal dari KNIL.

1. Heiho, merupakan Pasukan Pembantu Prajurit Jepang. Anggotanya adalah prajurit-prajurit Indonesia yang dilatih untuk melakukan pertahanan darat, laut maupun udara.

2. PETA (Pembela Tanah Air) merupakan tentara cadangan untuk memperkuat Heiho.

Beruntung masih ada Sri Sultan HB 9, yang menggunakan alasan memangun selokan Mataram untuk menyelamatkan rakyat Yogyakarta dari kewajiban Romusha.

Sebetulnya ada satu kelompok lagi yang tidak mau bekerja sama dngan Jepang, yakni “orang-orang kiri”. Syahrir memilih bergerak di bawah tanah sambil tetap berhubungan dengan Sukarno Hatta. Sementara beberapa kelompok kiri yang lain tetap memelihara semangat kemerdekaan di bawah tanah. Keenganan kelompok ini dapat dipahami. Sebelum Jepang masuk, banyak diantara mereka yang sudah menjadi pelarian akibat pemberontakan yang gagal pada thn 1927. Dalam pelarian di seputaran negara2 asia itulah mereka sudah paham perilaku fasis Jepang di berbagai negara yang sudah diduduki.
Bahkan menjelang jepang masuk, seorang alumni Digul bernama Sayuti Melik, mengirimkan tulisan ke Koran Sinar Selatan berisi provokasi agar tokoh2 pergerakan tidak bekerja sama dengan Jepang. Tulisan yang kemudian mengantarkan perjodohan dengan SK Trimurti. Tapi juga memvuat Sayuti Melik dikemudian hari ditangkap Jepang, karena Sinar Selatan di miliki oleh Pedagang Jpang. Hanya berkat kedekatan Bubg Karno dengan Jepang, Sayuti Melik bisa dipindahkan ke Penjara di Jakarta, untuk kemudian dibebaskan.

Pada jaman pendudukan Jepang, Tan Malaka kembali ke Indonesia dan bersembunyi di Banten dengan nama samaran Ibrahim. Tan Malaka pulalah yang selalu memprovokasi tokoh-tokoh bawah tanah untuk “merebut kemerdekaan”. Jangan sampai kemerdekaan diberikan oleh Jepang sebagai hadiah.

Menjelang akir pendudukan Jepang, Tan Malaka sepakat dengan Syahrir, bahwa yang layak untuk memproklamasikan Kemerdekaan hanyalah Sukarno-Hatta. Karena hanya mereka berdua yang dikenal dan diterima rakyat secara luas. Sementara mereka berdua mengakui hanya dikenal dikalangan tokoh-tokoh pergerakan. Syahrir dan Tan Malaka juga sepakat agar kemerdekaan diproklamirkan oleh Sukarno Hatta saja tanpa tanpa melibatkan PPKI (Panitya Pesiapan Kemerdekaan Indonesia). Sebuah badan bentukan Jepang setelah BPUPKI dibubarkan.
Selama Masa Jepang hanya tercatat 5 pemberontakan diberbagai wilayah. Yang paling terkenal adalah Pemberontakan Peta di Blitar. Hampir semua pemberontakan bersumber dari sikap semena-mena dan kejam dari tentara pendudukan Jepang. Karena itu sangat mudah ditumpas.

Karena semakin terdeask dalam Perang, Jepang kemudian membentuk BPUPKI (Badan PENYELIDIK Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Awalnya sekedar untuk menenangkan tojoh-tokoh pergerakan dan menunjukkan keseriusan dalam mempersiapkan kemerdekaan.
Untuk memperkuat janji kemerdekaan, Sukarno dan Hatta sampai di panggil ke Saigon, menghadap Panglima Angkatan Perang Jepang. Di Saigon, Sukarno-Hatta, bersama dengan utusan berbagai negara jajahan Jepang diberitahu bahwa Pemerintah di Tokyo sudah memutuskan AKAN memberi kemerdekaan. Membukikan bahwa kekawatiran banyak tokoh bawah tanah terbukti. Janji itu akan beresiko mengundang balik kolonial Belanda dan Sekutu bila dilaksanakan sesudah Jpang menyerah kalah. Faktanya, secara legal Jepang menerima penyerahan wilayah Nusantara dari Belanda pada tahn 1942.
Nantinya janji jepang akan menimbulkan berbagai konflik dramatis antara Sukarno-Hata dengan tokoh-tokoh “pemuda kiri” dan tokoh-tokoh bawah tanah. Dua peristiwa Dramatis diantaranya adalah Proklamasi Kemerdekaan di Cirebon dan Peristiwa Rengasdengklok yang juga disertai dengan Proklamasi Kemerdekaan. Jadi ada 2 Prokalamsi, sebwlum 17 Aguatus 1945.

(Bersambung ke Bagian 2 : Proses Proklamasi Kemerdekaan)
Dengan catatan : nek sempat….

Ilustrasi: Romusha

Sumber Ilustrasi: http://www.gurusejarah.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*