Nasi Kucing

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

Mblebes #3: 

Nasi Kucing

Suprawoto Toto

Nasi kucing, identik dengan nasi porsi kecil dengan lawuh minimalis yang jelas tidak cocok buat golongan “drembo” seperti saya, yang ketika maaih kuliah sanggup menghabiskan satu setengah bungkus nasi padang “Agam” yang terkenal dengan porsi jumbonya. Oleh karena itu, bagi saya makan nasi kucing bukan tergolong makan, tapi “ngemil”, teman ngetèh kalau pas nongkrong di angkringan. Tapi bukan nasi kucing yang kami makan hampir 32 tahun yang lalu.

Pagi itu, 17 Agustus 1985, pas ulang tahun saya yang nomer selawe. Bangun tidur saya ke kamar mandi, raup, terus ngglundung lagi di kamar, ngorok. Pagi2 saya sudah dihoyok-hoyok, dibangunkan oleh Dini, cewek, sahabat saya anak Sospol Komunikasi, sahabat di “geng” dolan dan ubyang-ubyung.
“Hoii… Tangii….!”
“Lho, dengaren kowe kesini esuk2, wis adus pula”
“Selamat Ulang Tahun, fren..” salaman.
“Thanks…”
“Makan2 dimana kita..?”
“Lho…”
“Iya to. Wong sugih kok ulang tahun ora nganggo mangan2. Saru, ngisin2i…..”
Masa itu saya memang sedang sugih2nya. Tahun itu ada “bea siswa” percepatan kelulusan insinyur khusus Kimia, Mesin, Listrik, programnya pak Habibie. Jumlahnya 40 ribu sebulan. Sudah gitu, entah bagaimana proses seleksinya saya nggak mudeng, saya dapat bea siswa dari Unilever, total 70 ribu sebulan. Kiriman wong tuwo lancar. Opo ora sugih kuwi?

“Yo wis lah.. Kita makan siang nanti di warungé Santos atau mbok Darmo?” Warung mbok Darmo terkenal murahnya, sedang warung Santos porsinya jumbo, dijamin ora tanduk.
“Wooo…, kéré..! Ulang tahun kok mbok Darmo…! Nyonyah Suharti atau Mbok Sabar laah…”
“Yo wis, yo wis…. Kita ke mbok Sabar..”
“Siip.., kita jemput teman2 dulu ya…?”
“Lho.., kok teman2?, berapa orang? Kenapa engga berdua aja biar mesra?” merayu biar ngirit.
“Wong ulang tahun kok. Yo paling apes limolas laah..”
“Ojo akeh2…, duwitku wis tipis iki..”
“Wis lah, ora usah rewel. Ndang adus terus kita jalan”
“Okee…., diajeng yayang diajak yo, ndak ngambek…..”

Siang itu, kami reriungan di Mbok Sabar cabang Terban yang ketika itu belum lama dibuka. Seperti bisa diduga, pesanan teman2 yang lagi “aji mumpung” jumlahnya banyak; 3 ekor ayam utuh beserta uba rampenya untuk 9 orang, termasuk “diajeng yayang”, Yangtinya Azka, yang karena waktu itu baru saja “resmi jadian” sama saya, makannya sedikit “jaim”. Jaman itu, diet adalah bahasa alien yang tidak kami kenal. Apalagi keto fast apalah….😏
Setelah kami semua makan minum sampai “kemlakaren”, daging2 ayam yang menempel di tulangnya masih cukup banyak. Mau dipaksa habiskan sudah terlalu kenyang. Mau minta dibungkus, gengsi dong mbungkusi balungan. Wong pesanannya saja sebanyak gitu kok balungan wae mau dibungkus.
Tapi namanya anak kost, ora mblebes ora mangan.

Salah seorang teriak panggil pelayan.
“Mas, sini..”
“Ada apa mbak?”
“Ini balung2 tolong bungkus, masukkan tas kresek. Buat makan kucing saya di rumah. Sambelnya juga ya….”

Walaupun dengan muka sedikit heran, masnya membungkusi juga sisa2 makanan di meja. “Kucingnya mbaknya jenis apa sih kok makan sambel sama lalap?”, mungkin begitu batinnya.

Malamnya, kami makan “nasi kucing”. Buntelan itu kami nikmati bersama sebagai makan malam, setelah dilengkapi dengan nasi anget dan kerupuk “Subur”.

#Merdeka….!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*