USDEK

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

USDEK
Suprawoto Toto

Jika pada jaman orde lama, Manipol/USDEK merupakan akronim dari Manifesto politik / Undang – Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia, maka di jaman saya kuliah USDEK merupakan singkatan dari urut2an hidangan yang dikeluarkan saat kita menghadiri hajatan mantenan, yaitu Unjukan, Sop, Dhaharan, Es krim, Kondur.

Pada suatu malam Minggu di awal tahun 80-an, lepas magrib saya sudah macak ngganteng, pakai celana kain dan sepatu kulit. Sepeda motor cap Binter yang sudah dilap mengkilat sejak siang tadi ditunggangi menuju daerah Terban, tempat pacar saya, gadis cuantik yang kuliah di Fakultas Biologi UGM, tinggal. Kemudian dengan si buah hati menempel erat dan wangi dibelakang, Binter diarahkan ke Gedung Wanita, yang kala itu masih baru jadi, gress.
Selasai parkir, mengisi buku tamu, memasukkan amplop dalam kotak yang disediakan, kami duduk manis menunggu prosesi berlangsung. Tak lama, alunan Kebo Giro terdengar, prosesi dimulai. Upacara “Temu” adat Jawa yang agung,  indah dan khidmat.

Selesai upacara, USDEK dimulai sambil mendengarkan ular2 dari pinisepuh kedua belah pihak.
Unjukan, berupa teh yang ditemani dengan snack asin manis.
Sop, yang berupa sop sayuran, makaroni, dan potongan daging ayam yang sedap.
Dhaharan, berupa nasi rames lengkap dengan lawuh daging bumbu bali, sambel goreng ati, capcai, ayam goreng, bihun goreng, kerupuk udang.
Es krim, yang sebenarnya adalah satu scoop es puter yang ditaruh diatas puding agar2.
Lengkap sudah USDEK, para tamu segera pamitan. Wajah2 bahagia dengan perut terisi, bersalaman dengan pengantin dan kedua ortu sambil tersenyum cerah.

Di jalan pulang kembali ke rumah, dialog antara saya dengan si Dia.
“Mas, pengantin perempuannya uayu ya?”
“He eh”
“Pengantin laki2nya juga ganteng”
“He eh”
“Kok cuma he ah, he eh. Mbok semaur apa kek apa”
“Lho, mau bilang apa?. Wong nyatanya memang begitu”
“Mas…”
“Hemm…”
“Kira2 kita nanti bakal sampai pelaminan kayak mereka ndak ya”
“Hemmm…..”
“Kok cuma hamm hemm dari tadi. Ndak perhatian sama pacar…!”
“Lho, mau disuruh omong apa..?”
“Mas, omong2.. Pengantinnya kok cuek banget ya tadi? Waktu kamu menyalaminya kok seolah-olah nggak begitu kenal. Padahal kan masih saudara mindoan kan?”
“Entahlah….”
“Harusnya kan sama kamu grapyak gitu. Wong sodaranya datang ke acara mentenannya kok. Apa memang orangnya sombong?”
“Entahlah. Ndak usah dipikirin. Wong kita juga ndak rugi kok”

Tak terasa kami sampi kembali ke Terban. Sudah jam 10 malam, maka saya segera pamitan dan kembali ke kost saya.

Malam Minggu tanggal tua itu, selamatlah uang jajan saya. Tidak perlu keluar uang untuk mbayar karcis bioskop, tidak perlu keluar uang untuk makan malam di Warung Romo Gayeng Kridosono. Cukup bermodalkan pakaian rapih, amplop kosong, dan uang parkir. Makan lezat gratis, dan kemesraan sama si Dia tetap terjaga. Dia tak perlubtahu bahwa malam itu sebenarnya saya sedang bokek. Dia juga tidak perlu tahu bahwa sebenarnya saya bukan saudaranya pengantin. Jangankan saudara, kenal saja enggak…..
USDEK, oh USDEK…..

Ilustrasi: Sop Manten Jawa
Sumber Foto Ilustrasi: https://cookpad.com/id/resep/2174690-sop-manten-jawa

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*