Trainee

KAGAMA mBangun Karimunjawa

KAGAMA Berbagi: Investigasi Fraud dengan Narasumber Haryoko R. Wirjosoetomo
Gedung Pusat UGM, 28 Oktober 2017;  Pendaftaran http://tinyurl.com/fraud-yk-kv

– Trainee –
Haryoko R. Wirjosoetomo

Peristiwa ini terjadi di sebuah hotel bintang empat di Bandung, saat saya, isteri dan Bee berakhir pekan disana. Seusai menunggui Bee dan isteri saya berenang, sekitar jam setengah duabelas siang kami kembali ke kamar hotel. Setiba disana saya terkejut, menemukan pintu kamar kami terbuka lebar. Awalnya saya mengira tengah dibersihkan, namun saat kami masuk kedalam, sudah rapi. Dengan segera saya periksa beberapa barang berharga yang kami simpan di safe deposit box dalam almari. Alhamdulillah utuh. Begitu pula laptop dalam ransel dan kamera dalam tas kamera yang saya taruh diatas meja. Juga masih utuh.

Dengan perasaan mangkel saya keluar dan mencari petugas yang menangani kebersihan kamar kami. Saya temukan di kamar lain, sejauh duapuluh kamar. Saya segera memanggilnya dan menyuruhnya ke kamar kami.

“Mengapa pintu kamar kami dibiarkan ngejeblak begini? Bukankah sesuai SOP seusai dibersihkan harus kembali ditutup dan Anda musti memastikannya telah terkunci?”

“Aduh pak… maaf…. anu…anu..”

Wajah petugas itu langsung pucat. Tanpa ba bi bu ia pergi ke kamar lain dan kembali lagi sambil menggandeng seorang remaja lelaki berbaju putih celana hitam.

“Kamu yang membersihkan kamar ini?”, tanyanya kepada anak tersebut.

“Iya pak…”

“Tadi kamu tutup pintunya enggak?”

“Enggak pak. Maaf saya lupa….”

Petugas itu diam sejenak, lalu menengok ke arah saya dengan tangan ngapurancang.

“Saya mohon maaf pak. Anak ini trainee dan hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Ia dibawah pengawasan saya dan saya lalai memperhatikannya. Untuk itu saya mohon maaf…”

Tak perlu saya katakan lagi, sepuluh menit kedepan mereka saya ceramahi keras soal keamanan dan kenyamanan tamu. Setelah puas mengomelinya, saya minta mereka meninggalkan kamar kami. Namun keduanya tidak bergerak, tetap diam dengan tangan ngapurancang. Saya paham apa artinya.

“Begini ya adik2. Kalian musti tahu satu hal. Saya marah karena kalian teledor sehingga saya bisa kecurian barang. Kedua, saya marah karena kalian abai dengan diri sendiri. Jika saya melapor ke manajemen, saya yakin kalian akan dapat sanksi berat. Bukankah begitu?”

Keduanya mengangguk.

“Nah, saya sudah periksa semua barang2 kami. Tak ada yang hilang. Jadi saya tak punya cukup alasan untuk melapor ke manajemen. Itu tidak fair bagi kalian, khususnya kamu,” ujar saya kepada si trainee. “Saya yakin kamu pasti langsung dipulangkan manajemen. Nah, kembalilah bekerja, saya tidak akan melaporkan keteledoran kalian….”

Keduanya saya salami, si trainee sampai membungkuk mencium tangan saya, merekapun berlalu. Saya akui, kekesalan saya lumayan besar dan kata2 saya sangat keras. Namun merampas pekerjaan mereka dan menggulingkan periuk nasinya?

Untuk kesalahan seperti itu, bagi saya terlalu berlebihan. Karena itulah saya patuh kepada ucapan ulama2 yang saya hormati. Adil sejak dalam pikiran, khususnya kepada wong cilik yang melakukan kelalaian kepada saya.

Balikpapan, 6 Agustus 2017

 

Ilustrasi: http://www.dh-asia.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*